Haruskah Memaafkan Suami Yang Dipelet Pelakor

Belum lama ini, saya menerima sebuah cerita. Dari seorang istri, yang menceritakan bahwa suaminya berselingkuh. Dengan seorang pelakor. Lalu ketahuan. Setelah ketahuan, si suami ini, mengaku dipelet oleh pelakor tersebut.

Nah, pertanyaan sang istri kepada saya adalah: Apakah ia harus memaafkan suaminya tersebut, atau tidak? Karena pada dasarnya, ia tidak terima telah diselingkuhi.

Jika saat ini, ada dari Anda yang sedang mengalami masalah serupa, besar kemungkinan pertanyaan ini pun terbayang di benak Anda. Suami berselingkuh. Tetapi selingkuhnya suami ini karena dia dipelet. Apakah itu berarti suami tidak bersalah? Apakah itu berarti suami layak untuk dimaafkan tanpa syarat?

Pertanyaan semacam ini, sesungguhnya tidak memiliki jawaban baku. Karena meskipun, idealnya kita tidak memaksakan untuk bertahan, di dalam sebuah hubungan yang telah rusak, namun kenyataannya masih banyak dari kita yang memang enggan berpisah. Meskipun suami sudah mengaku berselingkuh. Alasannya karena ada anak. Atau karena malu menyandang status janda.

Jadi memang tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua orang, karena kesanggupan tiap orang tidak sama.
Bila Anda memang sudah bertekad untuk mempertahankan rumah tangga ini, maka silakan. Tetapi bila Anda tidak yakin bisa mengikhlaskan, ya jangan.

Soal apakah unsur peletnya ini lantas menjadikan suami tidak bersalah, seharusnya tidak boleh Anda jadikan pertimbangan. Sebab ini adalah suatu faktor yang tidak dapat Anda buktikan.


Baca Juga :


Ciri-ciri pelet itu memang ada, dan bisa kita amati sedemikian rupa.  Termasuk, misalnya, timbul rasa suka yang berlebihan, selalu rindu untuk bertemu, sering sakit kepala, sering marah-marah pada istrinya, atau bahkan tunduk pada si pemelet.

Ciri-ciri ini ada, tetapi tidak bersifat mutlak. Jadi jangan sampai suami Anda, yang telah berselingkuh secara sadar, menjadikan pelet sebagai kambing hitam atas perbuatannya yang tidak pantas.

Karena pengasihan itu bekerja dengan cara menumbuhkan rasa suka. Dan rasa suka itu wajar munculnya. Rasa suka tidak akan menjadi apa-apa, bila kita tidak bertindak atas rasa suka tersebut. Sedangkan yang terjadi dalam hal ini, adalah suami telah bertindak atas rasa sukanya tersebut.

Jadi bila Anda sedang mempertimbangkan, untuk memaafkan suami atau tidak, maka peletnya ini tidak perlu ikut dijadikan pertimbangan. Dengan atau tanpa pelet, kenyataan yang ada di depan mata adalah, suami Anda telah berselingkuh.

Idealnya, memang, tidak sebaiknya kita bertahan. Tetapi realitanya, banyak dari kita merasa terpaksa harus bertahan. Demi anak. Demi keluarga. Padahal anak-anak kita pun mungkin akan ikut tidak bahagia, bila harus satu atap dengan orang tua mereka yang tidak lagi satu rasa.

Tetapi keputusan semacam ini, murni keputusan Anda sendiri. Syaratnya, jika ingin bertahan, maka Anda tidak boleh mengungkit kembali soal perselingkuhan ini, apapun yang terjadi.

Ini jelas tidak gampang. Karena rasa sakit itu akan tetap ada, sampai kapanpun juga. Maka jangan biarkan suami menggunakan istilah pelet sebagai tamengnya. Terlebih, kita pun tidak akan pernah tahu. Apakah benar si perempuan menggunakan pelet. Ataukah justru suami kita, yang menggunakan pelet untuk memikat perempuan lajang.

Anda putuskan untuk bertahan, silakan. Anda putuskan untuk berpisah, silakan. Tetapi ingat, tidak perlu Anda jadikan alasan peletnya sebagai pertimbangan. Apakah mungkin suami kita kena pelet? Mungkin saja. Tetapi seperti yang saya sampaikan tadi, rasa suka itu mestinya tidak akan menjadi apa-apa, bila ia tidak secara sadar bertindak atas rasa sukanya tersebut.

Demikianlah kurang lebihnya, yang dapat saya sampaikan, seputar pertanyaan, apakah kita harus memaafkan seorang suami, yang berselingkuh karena dipelet. Semoga dapat menjadikan sedikit pertimbangan bagi Anda. Saya doakan semoga rumah tangga Anda senantiasa langgeng dan harmonis.